Branjang, Kalurahan Ngawis, Karangmojo

Jejak Islamisasi di Gunungkidul yang Masih Misteri

16 Sep 2026
Jejak Islamisasi di Gunungkidul yang Masih Misteri

Artikel kali ini akan saya awali dengan mengulas sedikit dari caption feed IG sahabat saya yang menyatakan tentang awal perkembangan agama Islam di bagian timur Yogyakarta dimulai dari daerah Branjang Kawat.

Dari unggahan sahabat saya terdapat informasi bahwa pendirian Branjang Kawat di sekitar Wonosari. Namun tidak banyak sumber yang menuliskan tentang Islamisasi di daerah Branjang Kawat. Bahkan kalaupun ada, sumber tadi telah mengalami kerusakan. Namun, inti dari caption itu tentang wilayah penting dalam syiar Islam di Gunungkidul.

Kebetulan Branjang Kawat merupakan daerah tempat tinggal saya. Namun kini dikenal dengan nama dusun Branjang. Kalau benar ada sedikit sumber yang menyatakan kalau Branjang sangat penting dalam penyebaran agama Islam, maka ucapan atau cerita sesepuh juga benar. Mereka mengatakan kalau Branjang dulunya bisa dikatakan sebagai Mekahnya Gunungkidul.

Branjang Kawat atau Branjang didirikan oleh Kyai Irsyad. Beliau termasuk primus interpares-nya. Saya yang sempat membaca tulisan dari Pakdhe saya, Pakdhe Djamroni, pada akhirnya mencocokkan data meski ada selisih atau perbedaan waktu. Kemungkinan ini karena sumber sejarah yang kurang tadi.

Tulisan Pakdhe Djam dicetak untuk kalangan sendiri dan memerlukan penyempurnaan agar sejarah benar-benar terungkap. Pakdhe Djam membahas sejarah Branjang dengan sumber lisan. Kadang terkesan masih dibalut dengan cerita mistis.

Kyai Irsyad, atau oleh anak keturunan dikenal dengan nama Kyai Irsyad I merupakan pendiri dusun Branjang. Beliau adalah putra dari Kyai dan Nyai Taftazani. Mereka berasal dari desa Kedung Lumbu, Pacitan, Jawa Timur. Dikatakan bahwa beliau adalah seorang ahli hadits, fiqih dan filsafat.

Kyai Irsyad bisa sampai di daerah yang jauh dari Pacitan dimulai dengan kisah syiar agama di kawasan sebelah Utara Bale Panjang, desa Kedungdowo sampai Pijiharjo, Manyaran, Sukoharjo. Beliau dikenal luas dalam upaya syiar agama Islam.

Kebetulan pada waktu itu, Bupati Gunungkidul, Mangun Negara atau Mertanegara menginginkan ada orang yang mampu membuka lahan yang masih rawan atau hutan belantara yang terkenal angker. Di hutan itulah bisa menjadi tempat persembunyian para pencoleng dan pengacau keamanan wilayah keraton dan kabupaten. Hutan itu dikenal dengan nama Hutan Branjang Kawat Malang Kiat.

Oleh Kyai Haji Sholeh dari Susukan Ponjong memberikan pandangan yang disampaikan kepada bupati bahwa Kyai Irsyad-lah yang mampu membuka lahan itu.

Bupati mewakili Kesultanan Ngayogyakarta memanggil dan memerintahkan kepada Irsyad untuk melakukan babat alas atau membuka hutan. Perintah itu dilaksanakan kurang lebih tahun 1836-1843. Dari tahun ini, saya agak mengerutkan dahi karena dari tulisan sahabat saya mengungkapkan bahwa manuskrip atau sumber sejarah ditulis sekitar abad ke-16. Dalam hal ini, saya berharap ada penemuan lagi tentang kapan tepatnya pelaksanaan babat alas yang bersejarah itu. Nah, dalam usaha babat alas ini, konon Irsyad dibantu makhluk halus.

Setelah babat alas berhasil, alas itu diolah dan menjadi tempat tinggal. Persawahan dibuat dan sumber mata air cukup melimpah. Tercatat di sisi utara terdapat Kali Branjang yang dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari dan kepentingan irigasi sawah.

Kawasan ini menjadi maju. Santri Kyai Irsyad semakin banyak. Pada akhirnya tahun 1883 didirikan masjid. Pendirian masjid ini, menurut cerita turun temurun, dibangun bersamaan dengan meletusnya Gunung Krakatau.

Dalam perkembangannya, masjid ini diperluas dan diperbaiki oleh keturunan Kyai Irsyad yaitu Margiya atau Kyai Irsyad II. Anak keturunan Kyai Irsyad sendiri banyak yang belajar agama di Kauman, Yogyakarta. Mereka belajar kepada KHA Dahlan, KH Hajid, dan KH Badawi.

Sampai sekarang, menurut silsilah yang disusun dan saya cermati dari tulisan Pakdhe Djam, sudah sampai generasi ketujuh sampai kedelapan. Setiap jelang Ramadan, keluarga besar trah Kyai Irsyad mengadakan pengajian. Ada kesempatan untuk bertemu dengan saudara-saudara yang mungkin tidak atau belum mengenal satu sama lain.

Itulah sekelumit sejarah Islamisasi di Branjang yang dipercaya sebagai awal persebaran agama Islam di Gunungkidul. Meski seperti yang saya tuliskan di depan bahwa masih ada kerancuan tentang kapan tepatnya babat alas dan berdirinya Branjang itu sendiri. 

Sumber : https://www.kompasiana.com/jora5074/67cd19a2ed641513205e9fb2/jejak-islamisasi-di-gunungkidul-yang-masih-misteri