Branjang, Kalurahan Ngawis, Karangmojo
Logo Branjang

BRANJANG

Portal Resmi Informasi & Layanan Masyarakat

Selamat Datang di Portal Resmi

Membangun Branjang yang Maju & Sejahtera

Pusat keterbukaan informasi publik, tata kelola administrasi warga, dan wadah aspirasi serta potensi masyarakat Branjang.

RT / RW
Wilayah Binaan
± 250+
Jumlah Penduduk
130+
Kepala Keluarga
100%
Gotong Royong
Suasana Branjang
Pemerintahan Padukuhan

Dukuh Branjang

Sambutan Dukuh

Komitmen Pelayanan Transparan dan Penguatan Kemasyarakatan

Sugeng rawuh ing website resmi Padukuhan Branjang. Portal ini kami hadirkan sebagai media komunikasi, transparansi informasi publik, serta kemudahan warga dalam mengakses berbagai layanan tingkat padukuhan.

Kami terus berkomitmen untuk menjaga kerukunan antar warga, mengoptimalkan potensi pertanian dan UMKM lokal, serta merawat tradisi kebudayaan yang ada di Padukuhan Branjang.

"Nyawiji mbangun desa, njaga tradisi, ngunggulake potensi daerah."

Layanan Publik

Pengurusan Administrasi Warga

Panduan alur administrasi dan surat pengantar di tingkat RT, RW, dan Dukuh.

Pengantar KTP & KK

Pengurusan surat pengantar pembuatan KTP baru, perubahan data, atau penerbitan Kartu Keluarga baru.

Syarat: Pengantar RT/RW & FC Berkas

Surat Keterangan Usaha

Layanan pengantar untuk legalitas usaha mikro/kecil warga sebagai syarat pengajuan izin/bantuan.

Syarat: Identitas Diri & Detail Usaha

Surat Keterangan Kurang Mampu

Surat pengantar untuk keperluan beasiswa, keringanan biaya pendidikan, atau pendaftaran KIS/BPJS.

Syarat: Pengantar RT/RW & KK
Kabar Desa

Berita Terkini

Informasi dan pengumuman terbaru seputar aktivitas Branjang.

Musyawarah Kalurahan Ngawis Bahas Rencana Kegiatan Tahun 2027 Berita
16 Sep 2026

Musyawarah Kalurahan Ngawis Bahas Rencana Kegiatan Tahun 2027

Ngawis, 28 Juli 2026 – Pemerintah Kalurahan Ngawis menggelar Musyawarah Kalurahan (Muskal) pada Selasa (28/7/2026) sebagai langkah awal dalam menyusun rencana kegiatan pembangunan yang akan dilaksanakan pada Tahun Anggaran 2027. Kegiatan ini menjadi forum koordinasi dan penyelarasan program antar lembaga serta pemangku kepentingan di tingkat kalurahan.Musyawarah dipimpin oleh Pemerintah Kalurahan Ngawis dan dihadiri oleh Lurah Ngawis beserta jajaran pamong kalurahan, Bamuskal, Pendamping Desa, petugas Puskeswan, BPP Karangmojo, Babinsa, Bhabinkamtibmas, LPMD, Karang Taruna, LP2A, serta perwakilan RT dan RW se-Kalurahan Ngawis.Dalam sambutannya, Lurah Ngawis menyampaikan bahwa penyusunan rencana kegiatan tahun 2027 harus dilakukan secara partisipatif dengan memperhatikan kebutuhan masyarakat serta potensi yang dimiliki kalurahan. Seluruh usulan diharapkan dapat menjadi dasar dalam penyusunan program pembangunan yang tepat sasaran, bermanfaat, dan berkelanjutan.Pada kesempatan tersebut, peserta musyawarah membahas berbagai rencana kegiatan yang meliputi bidang penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan, pemberdayaan masyarakat, pembinaan kemasyarakatan, serta program-program yang mendukung peningkatan kesejahteraan warga. Berbagai masukan, usulan, dan aspirasi dari masing-masing unsur peserta turut disampaikan sebagai bahan penyusunan prioritas kegiatan Tahun Anggaran 2027. Pendamping Desa dari Kapanewon Karangmojo juga menyampaikan bahwa Kalurahan Ngawis harus memiliki Gedung Olahraga dan Posko Bencana yang belum ada. oleh karena itu, beliau berharap agar Pemerintah kalurahan Ngawis dapat memperhatikan hal tersebut. beliau juga menambahkan, dalam penyusunann RKP harus diperinci seperti tempat dan berapa volume yang harus dicapai. Khusnun Toyibah, selaku Carik Ngawis menjelaskan bahwa pada tahun 2026 tidak ada pembangunan fisik yang didanai Dana Desa dikarenakan ada efisiensi anggaran yang dilakukan oleh Pemerintah pusat. dengan anggaran yang ada, Pemerintah Kalurahan Ngawis harus tetap melaksanakan kegiatan yang sudah masuk dalam prioritas. oleh karena itu, jika pada tahun 2027 mendatang, Efisiensi Anggaran tetap diberlakukan, maka usulan - usulan yang sudah ada akan masuk daftar usulan yang akan dikirmkan ke Pemerintah Kabupaten maupun Pemerintah Provinsi.

Baca Selengkapnya
Hari Jadi Kalurahan Ngawis ke-115: Merawat Sejarah, Melestarikan Budaya, dan Menguatkan Kebersamaan Berita
16 Sep 2026

Hari Jadi Kalurahan Ngawis ke-115: Merawat Sejarah, Melestarikan Budaya, dan Menguatkan Kebersamaan

Ngawis, 28 Agustus 2026 — Pemerintah Kalurahan Ngawis menyelenggarakan rangkaian peringatan Hari Jadi Kalurahan Ngawis ke-115 pada Jumat, 28 Agustus 2026. Bertempat di Kalurahan Ngawis, kegiatan tersebut berlangsung mulai pukul 09.00 WIB dan diikuti oleh berbagai unsur pemerintahan, tokoh masyarakat, lembaga kemasyarakatan, serta perwakilan warga dari seluruh padukuhan yang ada di Kalurahan Ngawis.Peringatan Hari Jadi ke-115 ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial untuk memperingati bertambahnya usia Kalurahan Ngawis, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenang perjalanan sejarah, menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, serta memperkuat semangat kebersamaan masyarakat.Acara tersebut dihadiri oleh Forkompimkap Kapanewon Karangmojo, yang terdiri dari Panewu Karangmojo, Danramil Karangmojo, dan Polsek Karangmojo. Kehadiran Forkompimkap menjadi bentuk dukungan dan sinergi dalam menjaga hubungan yang harmonis antara Pemerintah Kalurahan Ngawis dengan unsur pemerintahan serta keamanan di wilayah Kapanewon Karangmojo.Selain Forkompimkap, kegiatan juga dihadiri oleh perwakilan RT, RW, kader, kepala sekolah, Linmas, dinas terkait, serta UPT Puskesmas Karangmojo 1. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa pembangunan dan kemajuan Kalurahan Ngawis merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.Kirab 12 Kendi Air, Simbol Persatuan 12 PadukuhanSalah satu rangkaian yang menjadi daya tarik sekaligus memiliki makna mendalam dalam peringatan Hari Jadi Kalurahan Ngawis ke-115 adalah kirab air yang terdiri dari 12 kendi, yang masing-masing berasal dari 12 padukuhan di Kalurahan Ngawis.Dua belas kendi air tersebut dikirab sebagai simbol bahwa seluruh padukuhan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Kalurahan Ngawis. Meskipun setiap padukuhan memiliki karakter, sejarah, tradisi, dan potensi masing-masing, semuanya bersatu dalam satu wadah, yaitu Kalurahan Ngawis.Air yang dibawa dalam kirab juga menjadi simbol kehidupan, kesucian, kesejukan, dan keberlanjutan. Penyatuan air dari 12 padukuhan dapat dimaknai sebagai harapan agar seluruh masyarakat Ngawis senantiasa bersatu, hidup rukun, saling menguatkan, serta bersama-sama menjaga keberlangsungan kehidupan dan pembangunan kalurahan.Kirab tersebut menjadi gambaran bahwa kekuatan Kalurahan Ngawis bukan hanya berada pada pemerintahannya, tetapi juga pada persatuan dan gotong royong masyarakat di seluruh 12 padukuhan.Semangat tersebut sejalan dengan perjalanan Kalurahan Ngawis yang telah melewati usia 115 tahun. Dari generasi ke generasi, masyarakat terus menjaga kebersamaan dan nilai gotong royong sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat.Arak-arakan Sajen, Ingkung, dan TumpengSelain kirab air, rangkaian kegiatan juga dimeriahkan dengan arak-arakan berbagai ubarampe tradisional berupa sajen, ingkung, dan tumpeng.Keberadaan berbagai ubarampe tersebut menjadi bagian dari upaya untuk tetap mengenalkan dan melestarikan budaya serta tradisi yang telah hidup di tengah masyarakat. Sajen, ingkung, dan tumpeng tidak hanya dipandang sebagai bagian dari rangkaian acara, tetapi juga mengandung simbol dan filosofi yang erat dengan kehidupan masyarakat Jawa.Tumpeng menjadi simbol rasa syukur sekaligus doa dan harapan agar masyarakat senantiasa mendapatkan keberkahan dan keselamatan. Sementara ingkung menjadi salah satu simbol dalam tradisi Jawa yang mengandung nilai kebersamaan, ketulusan, serta ungkapan rasa syukur.Arak-arakan tersebut berlangsung dengan suasana penuh kebersamaan. Warga dari berbagai padukuhan turut mengambil bagian dalam kegiatan sehingga peringatan Hari Jadi Kalurahan Ngawis terasa sebagai perayaan bersama seluruh masyarakat.Melalui kegiatan budaya seperti ini, Pemerintah Kalurahan Ngawis berupaya agar peringatan hari jadi tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga menjadi ruang untuk nguri-uri budaya dan mengenalkan tradisi kepada generasi muda.Penampilan Reog dari Siswa-Siswi SD Karanganom 1Suasana peringatan semakin meriah dengan adanya penampilan kesenian Reog yang dibawakan oleh siswa-siswi SD Karanganom 1.Penampilan para pelajar tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian para tamu undangan dan masyarakat yang hadir. Dengan penuh semangat, para siswa menampilkan kesenian tradisional di hadapan para tamu dan warga.Keterlibatan siswa-siswi dalam peringatan Hari Jadi Kalurahan Ngawis juga memiliki nilai penting dalam upaya pelestarian budaya. Generasi muda merupakan penerus yang nantinya akan melanjutkan keberadaan berbagai kesenian dan tradisi yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya.Melalui kesempatan tampil dalam kegiatan desa atau kalurahan, para siswa tidak hanya belajar tentang seni pertunjukan, tetapi juga belajar mengenai keberanian, kerja sama, kedisiplinan, serta rasa bangga terhadap budaya daerah.Penampilan Reog tersebut sekaligus menunjukkan bahwa budaya lokal dapat terus hidup apabila diberikan ruang kepada generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan menampilkannya.Menghormati Para Purnatugas Pamong KalurahanHal lain yang tidak kalah penting dalam peringatan Hari Jadi Kalurahan Ngawis ke-115 adalah kehadiran para Purnatugas Pamong Kalurahan Ngawis yang turut diundang dalam acara tersebut.Undangan khusus kepada para purnatugas menjadi bentuk penghormatan dan apresiasi atas pengabdian yang telah mereka berikan kepada Kalurahan Ngawis pada masa sebelumnya.Perjalanan sebuah kalurahan tidak dapat dipisahkan dari orang-orang yang telah mencurahkan waktu, tenaga, pikiran, dan pengabdiannya. Para pamong yang telah menyelesaikan masa tugasnya merupakan bagian penting dari sejarah panjang Kalurahan Ngawis.Oleh karena itu, menghadirkan mereka dalam peringatan Hari Jadi ke-115 merupakan sebuah bentuk penghargaan bahwa jasa para pendahulu tidak dilupakan.Mereka mungkin telah menyelesaikan tugas secara administratif, tetapi pengabdian dan kontribusi yang pernah diberikan tetap menjadi bagian dari perjalanan Kalurahan Ngawis.«“Hari ini kita melanjutkan apa yang telah dimulai oleh para pendahulu. Mengundang para purnatugas bukan sekadar menghadirkan mereka dalam sebuah acara, tetapi merupakan wujud penghormatan bahwa setiap pengabdian memiliki tempat dalam sejarah Kalurahan Ngawis. Apa yang kita nikmati dan lanjutkan hari ini tidak terlepas dari kerja keras dan perjuangan mereka di masa lalu.”»Penghargaan tersebut sekaligus menjadi pesan kepada generasi pamong dan masyarakat saat ini bahwa setiap bentuk pengabdian kepada masyarakat memiliki arti penting. Tidak ada pengabdian yang sia-sia, karena setiap langkah yang dilakukan oleh para pendahulu menjadi bagian dari fondasi bagi pembangunan di masa berikutnya.115 Tahun Menjaga Sejarah dan Menatap Masa DepanMemasuki usia 115 tahun merupakan sebuah perjalanan panjang bagi Kalurahan Ngawis. Selama lebih dari satu abad, Kalurahan Ngawis telah mengalami berbagai perubahan zaman dan dinamika kehidupan masyarakat.Peringatan Hari Jadi menjadi momentum untuk menengok kembali perjalanan tersebut, mengambil pelajaran dari masa lalu, mensyukuri berbagai capaian yang telah diraih, serta menyusun semangat baru untuk menghadapi masa depan.Nilai-nilai seperti gotong royong, kebersamaan, kerukunan, kepedulian, dan penghormatan terhadap para pendahulu diharapkan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Ngawis.Kirab 12 kendi dari 12 padukuhan menjadi simbol persatuan. Sajen, ingkung, dan tumpeng menjadi bagian dari pelestarian tradisi dan ungkapan rasa syukur. Penampilan Reog oleh siswa-siswi SD Karanganom 1 menjadi gambaran bahwa budaya dapat diwariskan kepada generasi muda. Sementara kehadiran para purnatugas pamong menjadi pengingat bahwa pembangunan hari ini berdiri di atas pengabdian orang-orang yang telah lebih dahulu menjalankan tugasnya.Semua rangkaian tersebut menyatu dalam satu pesan: Hari Jadi bukan hanya tentang bertambahnya usia, tetapi tentang bagaimana sebuah masyarakat menghargai sejarah, merawat budaya, menghormati jasa pendahulu, dan bersama-sama menyiapkan masa depan.Dengan semangat Hari Jadi Kalurahan Ngawis ke-115, Pemerintah Kalurahan Ngawis mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga persatuan dan kebersamaan, meningkatkan semangat gotong royong, serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan kalurahan.Semoga Kalurahan Ngawis semakin maju, masyarakatnya semakin sejahtera, budayanya tetap lestari, dan hubungan antara pemerintah dengan masyarakat semakin erat.Selamat Hari Jadi Kalurahan Ngawis ke-115.“115 Tahun Ngawis: Merawat Sejarah, Melestarikan Budaya, Menghargai Pengabdian, dan Bersama Melangkah Menuju Masa Depan.”

Baca Selengkapnya
Jejak Islamisasi di Gunungkidul yang Masih Misteri Berita
16 Sep 2026

Jejak Islamisasi di Gunungkidul yang Masih Misteri

Artikel kali ini akan saya awali dengan mengulas sedikit dari caption feed IG sahabat saya yang menyatakan tentang awal perkembangan agama Islam di bagian timur Yogyakarta dimulai dari daerah Branjang Kawat.Dari unggahan sahabat saya terdapat informasi bahwa pendirian Branjang Kawat di sekitar Wonosari. Namun tidak banyak sumber yang menuliskan tentang Islamisasi di daerah Branjang Kawat. Bahkan kalaupun ada, sumber tadi telah mengalami kerusakan. Namun, inti dari caption itu tentang wilayah penting dalam syiar Islam di Gunungkidul.Kebetulan Branjang Kawat merupakan daerah tempat tinggal saya. Namun kini dikenal dengan nama dusun Branjang. Kalau benar ada sedikit sumber yang menyatakan kalau Branjang sangat penting dalam penyebaran agama Islam, maka ucapan atau cerita sesepuh juga benar. Mereka mengatakan kalau Branjang dulunya bisa dikatakan sebagai Mekahnya Gunungkidul.Branjang Kawat atau Branjang didirikan oleh Kyai Irsyad. Beliau termasuk primus interpares-nya. Saya yang sempat membaca tulisan dari Pakdhe saya, Pakdhe Djamroni, pada akhirnya mencocokkan data meski ada selisih atau perbedaan waktu. Kemungkinan ini karena sumber sejarah yang kurang tadi.Tulisan Pakdhe Djam dicetak untuk kalangan sendiri dan memerlukan penyempurnaan agar sejarah benar-benar terungkap. Pakdhe Djam membahas sejarah Branjang dengan sumber lisan. Kadang terkesan masih dibalut dengan cerita mistis.Kyai Irsyad, atau oleh anak keturunan dikenal dengan nama Kyai Irsyad I merupakan pendiri dusun Branjang. Beliau adalah putra dari Kyai dan Nyai Taftazani. Mereka berasal dari desa Kedung Lumbu, Pacitan, Jawa Timur. Dikatakan bahwa beliau adalah seorang ahli hadits, fiqih dan filsafat.Kyai Irsyad bisa sampai di daerah yang jauh dari Pacitan dimulai dengan kisah syiar agama di kawasan sebelah Utara Bale Panjang, desa Kedungdowo sampai Pijiharjo, Manyaran, Sukoharjo. Beliau dikenal luas dalam upaya syiar agama Islam.Kebetulan pada waktu itu, Bupati Gunungkidul, Mangun Negara atau Mertanegara menginginkan ada orang yang mampu membuka lahan yang masih rawan atau hutan belantara yang terkenal angker. Di hutan itulah bisa menjadi tempat persembunyian para pencoleng dan pengacau keamanan wilayah keraton dan kabupaten. Hutan itu dikenal dengan nama Hutan Branjang Kawat Malang Kiat.Oleh Kyai Haji Sholeh dari Susukan Ponjong memberikan pandangan yang disampaikan kepada bupati bahwa Kyai Irsyad-lah yang mampu membuka lahan itu.Bupati mewakili Kesultanan Ngayogyakarta memanggil dan memerintahkan kepada Irsyad untuk melakukan babat alas atau membuka hutan. Perintah itu dilaksanakan kurang lebih tahun 1836-1843. Dari tahun ini, saya agak mengerutkan dahi karena dari tulisan sahabat saya mengungkapkan bahwa manuskrip atau sumber sejarah ditulis sekitar abad ke-16. Dalam hal ini, saya berharap ada penemuan lagi tentang kapan tepatnya pelaksanaan babat alas yang bersejarah itu. Nah, dalam usaha babat alas ini, konon Irsyad dibantu makhluk halus.Setelah babat alas berhasil, alas itu diolah dan menjadi tempat tinggal. Persawahan dibuat dan sumber mata air cukup melimpah. Tercatat di sisi utara terdapat Kali Branjang yang dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari dan kepentingan irigasi sawah.Kawasan ini menjadi maju. Santri Kyai Irsyad semakin banyak. Pada akhirnya tahun 1883 didirikan masjid. Pendirian masjid ini, menurut cerita turun temurun, dibangun bersamaan dengan meletusnya Gunung Krakatau.Dalam perkembangannya, masjid ini diperluas dan diperbaiki oleh keturunan Kyai Irsyad yaitu Margiya atau Kyai Irsyad II. Anak keturunan Kyai Irsyad sendiri banyak yang belajar agama di Kauman, Yogyakarta. Mereka belajar kepada KHA Dahlan, KH Hajid, dan KH Badawi.Sampai sekarang, menurut silsilah yang disusun dan saya cermati dari tulisan Pakdhe Djam, sudah sampai generasi ketujuh sampai kedelapan. Setiap jelang Ramadan, keluarga besar trah Kyai Irsyad mengadakan pengajian. Ada kesempatan untuk bertemu dengan saudara-saudara yang mungkin tidak atau belum mengenal satu sama lain.Itulah sekelumit sejarah Islamisasi di Branjang yang dipercaya sebagai awal persebaran agama Islam di Gunungkidul. Meski seperti yang saya tuliskan di depan bahwa masih ada kerancuan tentang kapan tepatnya babat alas dan berdirinya Branjang itu sendiri. Sumber : https://www.kompasiana.com/jora5074/67cd19a2ed641513205e9fb2/jejak-islamisasi-di-gunungkidul-yang-masih-misteri

Baca Selengkapnya
Kegiatan Warga

Agenda & Pengumuman

Jadwal kegiatan kemasyarakatan dan pengumuman penting bagi seluruh warga Branjang.

Rutinitas Bulanan

Posyandu Balita & Lansia

Pelayanan kesehatan rutin, pemantauan tumbuh kembang anak, dan pemeriksaan kesehatan lansia.

Minggu Ke-2 Balai Padukuhan
Kegiatan Gotong Royong

Kerja Bakti Lingkungan

Pembersihan saluran irigasi dan perapihan jalan lingkungan padukuhan secara swadaya.

Sesuai Jadwal RT Seluruh Wilayah
Keamanan Lingkungan

Jadwal Ronda Malam (Siskamling)

Menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan secara bergilir sesuai jadwal di pos ronda masing-masing.

Setiap Malam Pos Ronda RT